Garuda di Dada Ayah Rudi
Oleh Adisan Jaya
Oleh Adisan Jaya
Fajar
nampaknya menyambutku dengan senyum cerahnya, kian detik kian mekar... Diiringi
alunan nyanyian burung-burung bersenandung dengan indahnya, membuatku terbawa
kedalam nada-nada syahdu. Meski sedikit terganggu dengan pasukan ayam yang mulai
berpidato dengan celotehannya. Tapi aku cukup menikmati, karena kupu-kupu
bersolek di depan ku, mencoba menyemprotkan bingkai baru dengan penuh warna.
Ah...indah tak terkira, hingga menghabiskan kata-kata yang ku tabung selama
ini. Kata-kata yang sengaja disimpan
karena kecewa dengan keadaan yang tak sepaham denganku.
Pagi
ini aku memulai seperti hari biasa, minum teh sambil baca koran diatas kursi
roda yang sedikit membatasi gerakku, tapi aku coba nikmati sepenuh hati. Mataku
mulai merangkak diatas ribuan huruf yang ku rangkul dengan sedikit was-was, ku
perhatikan satu persatu seakan tak ingin satu rangkai katapun terlewati. “Tik!”
tiba-tiba kedipan mataku tertunda, nampaknya ada satu hal yang menarik
perhatianku, ‘TIMNAS dipermalukan Malaysia 0-4 di final!’.
“Assuuu!! Dasar jancukers!” teriakku meledak.
“Kenapa