Tampilkan postingan dengan label Makalah Analisis Citraan dalam Puisi WS Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Analisis Citraan dalam Puisi WS Rendra. Tampilkan semua postingan

Makalah Analisis Citraan dalam Puisi WS Rendra


Oleh Adisan Jaya
BAB I
PENDAHULUAN

1.2        Latar Belakang
Sastra merupakan ciptaan manusia yang memiliki ciri yang khas karena penyair berhak ingin menjadi apa saja dalam karyanya. Sastra merupakan kegiatan kreatif yang dihasilkan oleh seorang seniman dalam bentuk karya yang fundamental, baik itu dalam bentuk prosa, drama dan puisi sehingga penikmat atau pengapresiasi mampu membedakan jenis dan karekteristrik karya itu sendiri.
Puisi merupakan ekspresi pengalaman batin (jiwa) penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya, dalam bentuk teks yang dinamakan puisi. Masalah kehidupan yang disuguhkan penyair dalam puisinya tentu saja akan sekedar refleksi realitas (penafsiran kehidupan, rasa simpati kepada kemanusiaan, renungan mengenai penderitaan manusia dan alam sekitar) melainkan juga cenderung mengekspresikan hasil renungan penyair tentang dunia metafisik, gagasan-gagasan baru ataupun sesuatu yang belum terbayangkan dan terpikirkan oleh pembaca, sehingga puisi sering dianggap mengandung suatu misteri.
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang (Pradopo, 1987: 3). Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan, perkembangan. Menurut Teeuw dalam Pradopo (1987: 3) menjelaskan bahwa hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvesi dan pembaharuan (inovasi). Puisi selalu berubah-ubah sesuaibdengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre, 1987: 3).
Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna, imajanasi yang merupakan gambaran-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, pemakalah menganalisis atau mengkaji puisi dengan Citraan yang berjudul “Menganalisis Citraan pada puisi WS Rendra”. Karena dalam karya-karyanya, WS Rendra sangat memperhatikan kata-katanya dengan imajinya yang kuat, sehingga membuat pemakalah tertarik untuk menganalisisnya. Semoga apa yang pemakalah sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua.

1.2        Rumusan Masalah
a.             Bagaimanakah pengertian Citraan puisi?
b.            Bagaimanakah jenis-jenis Citraan puisi?
c.             Bagaimanakah analisis Citraan dalam puisi karya WS Rendra?

1.3        Tujuan
a.             Mendeskripsikan pengertian Citraan.
b.            Mendeskripsikan jenis-jenis Citraan puisi.
c.             Mendeskripsikan analisis Citraan dalam puisi karya WS Rendra.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1        Pengertian Citraan
a.             Pengertian Puisi
Puisi itu merupakan mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 1987: 7).

b.            Pengertian Citraan.
Citraan atau gambaran-gambaran angan. Dalam puisi, untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus, untuk membuat (lebih) hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan dan juga untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan (pikiran), di samping alat kepuitisan yang lain. Gambaran-gambaran angan dalam sajak itu disebut citraan (imagery) (Pradopo, 1987: 79).
Menurut Coombes dalam Pradopo (1987: 80) mengemukakan bahwa dalam tangan seorang penyair yang bagus, imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahannya untuk mengintensifkan, menjernihkan, memperkaya; sebuah imaji yang berhasil menolong orang merasakan pengalaman penulis terhadap objek dan situasi yang dialaminya, memberi gambaran yang setepatnya, hidup, kuat, ekonomis, dan segera dapat kita rasakan dan dekat dengan hidup kita sendiri.
Dengan hal itu orang harus mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan  sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada kita. Citraan biasanya lebih mengingatkan kembali dari pada membuat baru kesan pikiran, sehingga pembaca terlibat dalam kreasi puitis (Altenbernd, 1987: 80).

2.2        Jenis-jenis Citraan (Imaji)
Dalam Pradopo (1987: 81) memaparkan gambaran-gambaran angan itu ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan penciuman. Bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Dibawah ini  jenis-jenis citraan atau imaji yaitu sebagai berikut:
a.            Citra Penglihatan (visual imagery)
Citra penglihatan adalah jenis yang paling sering dipergunakan oleh penyair dibandingkan dengan citraan yang lain. Citra penglihatan memberi rangsangan kepada inderaan penglihatan, hingga sering hal-hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat.
b.            Citra Pendengaran (auditory imagery)
Citra pendengeran yaitu citraan itu dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara (Altenbernd dalam Pradopo, 1987: 82). Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, Citraan pendengaran berhubungan dengan
kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga). Contohnya camar bernyanyi, Suara gemuruh dalam kelam.
c.             Citra Perabaan (tactile imagery)
Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.
d.            Citra Pencecapan (gustatory)
Citraan pencecapan adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera pengecap. Pembaca seolah-olah