Tampilkan postingan dengan label kajian drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian drama. Tampilkan semua postingan

MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)


Oleh Anis Dwi Winarsih
 
 1.      Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.      Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.      Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.      Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.      Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.      Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.      Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.      Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.

Analisis Standar Mutu Drama “Kampung Kardus”


ISI
2.1 Standar Mutu Drama
Sebelum membahas mengenai standar mutu sebuah naskah drama, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu standar mutu secara umum.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), standar adalah ukuran tertentu yang diapakai sebagai patokan. Sedangkan mutu adalah ukuran baik atau buruk suatu benda yang dalam hal ini dapat juga disebut sebagai kualitas. 
Menurut Joseph Juran, ada lima konsep atau dimensi penilaian standar mutu secara umum yaitu rancangan (desain), kesesuaian, ketahanan, keamanan (tidak membahayakan), dan dapat dimanfaatkan.  Apabila konsep ini dihubungkan dengan sebuah naskah drama, maka uraian atau penjelasannya sebagai berikut:
2.1.1 Rancangan (desain)          
Suatu naskah, sebelum ditulis pastinya memiliki rancangan terlebih dahulu.  Rancangan ini dapat berupa rencana (plan).  Rencana yang dimaksud adalah rencana yang dibuat oleh pengarang mengenai bagaimana unsur-unsur dalam struktur naskah drama seperti tema, alur, penokohan, setting, dan lain sebagainya akan dibuat.  Rencana ini dapat juga berupa tujuan (untuk apa, siapa dan mengapa) naskah drama ini dibuat.  Sesuatu yang terencana dengan matang pastilah akan membuahkan hasil yang optimal dan bermutu. 
Rancangan juga sangat perlu demi terciptanya sebuah karakteristik yang khas untuk membedakannya dengan hasil karya orang lain, karena karakteristik yang khas akan mudah dan selalu diingat.   Oleh karena itu, rancangan sangat diperlukan dalam pembuatan naskah drama. 
2.1.2  Keseusaian
Kesesuaian dalam konteks naskah drama yang bermutu  memiliki hubungan dengan rancangan.  Sebuah naskah drama harus dirancang sesuai dengan tujuan. Misalnya sebuah naskah drama diciptakan oleh pengarang dengan cerita mengenai dunia anak, maka pengarang harus konsisten dengan tujuannya itu.  Unsur-unsur naskah drama yang ditulis harus menyesuaikan dengan dunia anak, entah itu tema, alur cerita, penokohan dan lain sebagainya.  Tidak mungkin pengarang mengambil tema mengenai percintaaan untuk naskah drama yang ditujukan untuk anak-anak, karena tema ini dianggap tidak sesuai.
Kesesuaian juga dapat dilihat dari cerita yang ada dalam naskah terhadap apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari.  Misalnya dalam sebuah naskah drama yang mengambil latar dan penokohan orang-orang kaya metropolis yang tinggal di  tengah kota. Akan terasa janggal dan tidak sesuai jika pengarangnya menggambarkan penokohannya sebagai orang-orang yang tradisional, kampungan dan gagap teknologi, karena orang-orang kaya metropolis dalam kehidupan nyata memiliki kehidupan yang modern dan dekat sekali dengan perkembangan teknologi.
Kesesuaian ini merupakan salah satu jendela penilaian apakah suatu naskah drama itu bermutu atau tidak.  Adanya ketidaksesuaian dapat mengurangi nilai estetika dalam naskah drama yang dapat berakibat suatu naskah drama itu menjadi tidak bermutu.   Dalam hal ini kepekaan pengarang sangat diuji untuk dapat melihat kesesuaian naskah drama yang ditulisnya.
2.1.3  Ketahanan
Sesuatu yang bermutu biasanya memiliki ketahanan atau biasa disebut eksistensi yang awet.  Begitu pula pada drama.  Drama yang bermutu biasanya memiliki ketahanan atau dapat bertahan di tengah derasnya arus karya drama lain yang bermunculan sehingga selalu ada ketersediaan (selalu ada).  Drama yang memiliki ketahanan ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang lain.  Karakteristik inilah yang membuat penikmatnya memiliki kesan tersendiri terhadap karya drama itu dan selalu mengingatnya.
Contoh karya drama yang bermutu adalah Titanic.  Drama yang diangkat ke dalam film ini memiliki ketahanan yang hingga sekarang pun masih diingat oleh para penikmat di seluruh dunia.  Penyajian filmnya mulai dari tema, alur, setting, akting pemain dan lain-lain sangat diperhatikan dan dibuat seprofesional mungkin sehingga menghasilkan sebuah karya bermutu dan memiliki ketahanan di hati para penikmatnya.
2.1.4  Keamanan
Apabila diibaratkan sebagai makanan, maka barang yang bermutu harusnya aman untuk dikonsumsi.  Begitu pula dengan sebuah karya drama.  Sebuah karya drama harus memiliki nilai keamanan di dalamnya.  Aman di sini dalam artian bahwa segala unsur dari karya drama itu aman untuk dinikmati atau apabila dinikmati maka tidak menimbulkan bahaya.  Keamanan dapat berarti bahwa isi dari sebuah karya drama tidak mengandung unsur untuk mencelakakan atau menjerumuskan penikmatnya kepada hal yang negatif.
2.1.5  Manfaat
Hal terpenting dalam menilai mutu dalam sebuah karya drama ialah apakah karya drama itu memiliki manfaat bagi penikmatnya.  Salah satu manfaat yang paling nampak adalah sebagai hiburan.  Namun, tidak sebatas itu saja manfaat dari suatu karya drama yang bermutu.  Karya itu juga harus memiliki nilai dan pesan moral yang dapat diambil oleh