Nama : Adisan Jaya
Nim : 201110080311057
Artikel : Dasar-Dasar Teori Sastra
Sumber : Rumah Sastra
Rumahsastra.com/Blogdetik.com
By Mastiah
DASAR-DASAR TEORI SASTRA
A. Pengertian Sastra
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) arti kata sastra adalah “karya tulis
yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan,
seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya”. Karya
sastra berarti karangan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan
bahasa yang indah. Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah
manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas. Pembaca sastra
dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya
sendiri.
Menurut
Wellek dan Warren (1989) sastra adalah sebuah karya seni yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1.
sebuah ciptaan, kreasi, bukan imitasi
2.
luapan emosi yang spontan
3.
bersifat otonom
4.
otonomi sastra bersifat koheren(ada keselarasan bentuk dan isi)
5.
menghadirkan sintesis terhadap hal-hal yang bertentangan
6.
mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa sehari-hari.
Sastra
bukanlah seni bahasa belaka, melainkan suatu kecakapan dalam menggunakan bahasa
yang berbentuk dan bernilai sastra. Jelasnya faktor yang menentukan adalah
kenyataan bahwa sastra menggunakan bahasa sebagai medianya. Berkaitan dengan
maksud tersebut, sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang
lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Sastra selalu melibatkan pikiran
pada kehidupan sosial, moral, psikologi, dan agama. Berbagai segi kehidupan
dapat diungkapkan dalam karya sastra.
Sastra
dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan kepada pembacanya. Seringkali
dengan membaca sastra muncul ketegangan-ketegangan (suspense). Dalam
ketegangan itulah diperoleh kenikmatan estetis yang aktif. Adakalanya dengan
membaca sastra kita terlibat secara total dengan apa yang dikisahkan. Dalam
keterlibatan itulah kemungkinan besar muncul kenikmatan estetis. Menurut
Luxemburg dkk (1989) sastra juga bermanfaat secara rohaniah. Dengan membaca
sastra, kita memperoleh wawasan yang dalam tentang masalah manusiawi, sosial,
maupun intelektual dengan cara yang khusus.
Berdasarkan
uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sastra adalah hasil cipta manusia
dengan menggunakan media bahasa tertulis maupun lisan, bersifat imajinatif,
disampaikan secara khas, dan mengandung pesan yang bersifat relatif.
B. Sastra, Antara
Estetika dan Etika
Meski pendapat Laurance Perrine (1959)
boleh dianggap kuno, tetapi masih bisa
memberi gambaran tentang dua kategori sastra, yang dia sebut sebagai escape
literature dan interpretative literature, yang masing-masing punya
kelas pembaca sendiri (Sunaryono Basuki Ks. dalam Mozaik Sastra, 2005).
Sastra yang termasuk kategori pertama, ditulis semata-mata untuk menghibur,
sekedar mengisi waktu luang. Sastra jenis ini justru membawa pembacanya menjauh
dari kenyataan kehidupan, dan membuat pembacanya lupa akan masalah yang
dihadapinya. Tujuannya cuma memberi kesenangan atau hiburan saja.
Sastra kategori kedua ditulis untuk
memperluas, memperdalam, serta mempertajam kesadaran pembacanya mengenai
kehidupan. Dengan melalui imajinas, sastra kategori ini membawa pembaca lebnih
dalam ke dunia nyata, membuat orang mampu memahami masalah-maslahnya, sastra
ini membuat orang lebih mendalami dan memahami masalah-masalahnya, sastra ini
membuat orang lebih memahami kehidupan. Sebuah karya sastra interpretatif
menerangi aspek kehidupan dan perilaku manusia, memberi pemahaman mendalam
mengenai sifat dan kondisi eksistensi manusia.
Karya sastra yang baik akan
mengetengahkan kebenaran mengenai sejumlah aspek esksistensi kehidupan manusia.
Sastra mampu mengungkapkan sebuah kemerosotan etika dengan balutan estetika
yang apik yang berisi pesan moral atau kritik social dengan cara yang lain.
Sastra dengan balutan estetika dan etika diharapkan dapat menanamkan
nilai-nilai hakiki karakter, moralitas, dan etik yang bersentuhan dengan
problem kemanusiaan dan berbagai halnya secara perlahan dan tak langsung. Menurut Maman
S. Mahayana (Bermain dengan Cerpen, 2006) sastra dihadirkan dengan
kesadaran untuk menggoda rasa dan nilai kemanusiaan. Menyentuhnya secara halus,
dan