Ku mainkan kuas di atas kanvas ini. Sembari memejamkan mata aku hayati
benar-benar. Sketsamu yang samar ku reka. Ku koneksikan saraf dalam raga, untuk
menumpahkan bayangmu yang akhir-akhir ini menghantui. Kemudian ku tumpahkan
indahmu dengan tinta ini. Tapi sedikit sulit memang, karena indah dalam dirimu
tak mampu tergambarkan oleh tinta-tinta murahan ini.
Entah kenapa neuron terus memacu untuk membayangkanmu. Semuanya
