A.
PENGANTAR
Bahasa merupakan salah satu media yang digunakan manusia
dalam berkomunikasi. Manusia tidak akan lepas dari proses penggunaan bahasa
dalam kehidupannya sehari-hari. Bahasa digunakan dalam setiap lini kehidupan
untuk mempermudah proses berkomunikasi. Penggunaan bahasa tidak mengenal usia,
dari orang tua hingga anak kecil, harus menggunakan bahasa untuk menyampaikan
apa yang ingin disampaikannya.
Namun
pada anak kecil, tata bahasa yang mereka gunakan tentu berbeda dengan tata
bahasa yang orang dewasa gunakan. Hal ini disebabkan bahasa mereka masih berupa
bahasa sederhana.
Seorang anak biasanya mengucapkan kata-kata yang mereka
dapatkan dari lingkungan mereka. Hal ini biasa disebut pemerolehan bahasa. Menurut
Marjusman Maksan dalam Yaniarti (online), pemerolehan bahasa adalah proses
penguasaan bahasa yang dilakukan oleh seseorang (bukan cuma anak-anak) secara
tidak sadar, implisit, dan informal. Hal ini berarti bahwa proses tersebut
tidak mengenal guru atau orang yang semacam itu yang bertanggung jawab terhadap
pencapaian hasil belajar. Juga tidak ada semacam kurikulum atau rencana
pelajaran tertentu, seta tidak ada pula waktu dan tempat yang khusus yang
disediakan untuk belajar bahasa tersebut.
Bahasa pertama atau bahasa ibu merupakan bahasa yang pertama
kali didengar oleh seorang anak. Bahasa pertama tersebut kemudian
berusaha diucapkan oleh seorang anak dengan cara peniruan. Meskipun kata-kata
tersebut tidak jelas maknanya. Ketidakjelasan tersebut disebabkan alat ucap
yang belum sempurna, kemudian lama kelamaan karena ia tidak mendengar bunyi
bahasa selain dari bunyi bahasa ibunya sendiri, maka ia pun hanya akan
membunyikan bahasa ibunya saja.
Terdapat
hubungan antara bahasa pertama yang diperoleh oleh seorang anak, dengan
perkembangan anak nantinya. Seorang anak yang memperoleh bahasa pertama berupa
kata-kata kotor, maka anak tersebut akan menirunya dan mengucapkannya hingga ia
dewasa. Selanjutnya, perilakunya akan terpengaruh pula. Hal ini sesuai dengan
penelitian di Jepang. Bahwa air yang diucapkan kata-kata buruk,
kristal-kristalnya akan berbentuk buruk pula. Berbeda dengan air yang diucapkan
kata-kata baik, kristal-kristalnya akan berbentuk sangat bagus. Manusia sendiri
terdiri 90% dari tubuhnya terdiri dari air. Karenanya, bukan tidak mungkin
kata-kata yang biasa didengar oleh anak akan membentuk pribadi anak sesuai
dengan kata-kata yang mereka dengar.
Lingkungan juga mempunyai peranan penting terhadap
perkembangan bahasa pertama anak. Tidak jauh berbeda dengan contoh di atas,
seorang anak yang tumbuh di lingkungan dengan kondisi sosial buruk, akan
memperoleh kata-kata yang buruk untuk didengar. Kata-kata tersebut kemudian
diulang-ulangnya, meskipun dia tidak tahu apa artinya. Bahkan terkadang, ketika
menangis pula kata tersebut mereka ucapkan tanpa sadar. Contoh lainnya, seorang
anak yang tumbuh di lingkungan dengan banyak larangan, maka kata-kata yang
didengarnya hanyalah kata-kata negatif yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan
si anak. Anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang pesimis, penuh rasa takut,
tidak mampu menghadapi masalah, dan lainnya.
Berdasarkan hal itu, penulis merasa tertarik untuk meneliti
pemerolehan bahasa pertama anak yang dipengaruhi kata-kata jorok atau negative
dengan judul “Penyebab Pemerolehan Bahasa Kotor (Jorok) Terhadap
Perkembangan Bahasa Anak Usia 4 Tahun”
Terutama
bagaimana proses ia memperoleh bahasa pertama, penggunaannya, dan perkembangan
si anak ke depannya. Penulis memilih Epi sebagai objek penelitiannya, karena ia
salah satu anak yang berumur 4 tahun.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah faktor penyebab pemerolehan
bahasa kotor (jorok) pada anak usia 4 tahun?
2. Bagaimanakah
pengaruh pemerolehan bahasa kotor (jorok) terhadap perkembangan bahasa anak
usia 4 tahun?
3. Cara
mengatasi anak yang suka berkata jorok
C.
TUJUAN
1. Mendeskripsikan
faktor penyebab pemerolehan bahasa kotor (jorok) pada anak usia 4 tahun.
2. Mendeskripsikan
pengaruh pemerolehan bahasa kotor (jorok) terhadap perkembangan bahasa anak
usia 4 tahun.
3. Cara
mengatasi anak yang suka berkata jorok
D.
METODE
PENULISAN
Proses
penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode dokumentasi. Metode ini
merupakan metode yang mencari sumber informasi dari buku, internet dan
referensi lainnya, dengan mendasarkan pengembangan wacana beradasarkan
pengamatan langsung terhadap objek dan berdasarkan pencatatan proses
pemerolehan bahasa anak pada usia tertentu (4 tahun).
Selain
itu, penulis juga menggunakan metode observasi langsung yang dilakukan kepada
anak usia 4 (empat) tahun. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dapat meneliti
secara langsung kondisi bahasa kotor (jorok) terhadap perkembangan bahasa anak
usia 4 (empat) tahun.
E.
HASIL
PENGUMPULAN DATA
Beberapa
ucapan Alena Ayu anak pada usia 4 (empat) tahun berikut, bisa dianalisis
berdasarkan perkembangan fisik dan psikis penuturnya. Sebagaimana terurai pada
tabel berikut.
No
|
Kata
|
Alena Ayu
|
||
Biasa
|
Jorok/
Kasar
|
Pengucapan
|
||
Kata Biasa
|
Kata Jorok
|
|||
1
|
Jeruk
|
Jancok
|
Jeuk
|
Janco
|
2
|
Permen
|
Asu
|
Pelmen
|
Asu
|
3
|
Roti
|
Matamu
|
Oti
|
Matamu
|
4
|
Anggur
|
Anggul
|
||
5
|
Aku
|
Atu
|
||
F.
LANDASAN
TEORI
1.
Definisi
Bahasa Kotor
Pernahkah kita mendapati atau mendengar kata-kata kasar dan
kotor meluncur begitu saja dari mulut si kecil? Kemudian kita berpikir, padahal
tidak ada yang memberikan contoh seperti itu, baik di rumah maupun
teman-temannya di sekitar rumah. Apa yang harus kita lakukan untuk
menghadapinya?
Banyak orangtua yang merasa sudah memerhatikan perkembangan
dan lingkungan si kecil dengan seksama, tapi tiba-tiba menemukan si kecil
melontarkan