Tampilkan postingan dengan label Makalah Bahasa Sebagai Objek Kajian Linguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah Bahasa Sebagai Objek Kajian Linguistik. Tampilkan semua postingan

Bahasa Sebagai Objek Kajian Linguistik



1.      Bahasa
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai bahasa dan bidang-bidang kajiannya, perlu diketahui lebih dahulu masalah umum mengenai bahasa seperti tertera di bawah ini:

1.1  Sekitar Asal-usul Bahasa
Pengkajian tentang asal-usul bahasa sesunggunya telah bermula sejak abad kelima sebelum masehi di Yunani Kuno. Perdebatan mengenai permasalahan ini sebenarnya telah memakan masa berabad-abad dan telah melibatkan para sarjana yang bukan saja terdiri atas ahli-ahli bahasa, bahkan ahli psikologi, ahli filsapat, ahli arkeologi, ahli sosiologi, ahli sejarah, dan sebagainya. Akan tetapi, samapai sekarang persoalan ini masih belum mendapat sesuatu kebulatan pendapat yang dapat diterima oleh para sarjana.Teori baru yang beraneka ragam selalu muncul, makin lama makin banyak teori dan makin rumitpula persoalannya. Oleh karena itu, sejak tahun 1966 societie Linguistique Farncaise telah anggan menerima segala karangan yang membicarakan persoalan asalusul bahasa. J Vandryes menyatakan bahawa masalah asal-usul bahasa bukan termasuk bidang linguistik. Sejak itu perbincangan masalah asal-usul bahasa tertunda beku untuk sementara. Tidak lama kemudian masalah ini timbul kembali diperbincangkan orang. Sejak jaman purbakala, manusia telah menaruh perhatian tentang rahasia timbulnya bahasa atau bagaimana benda mendapat namanya.
Ada beberapa asumsi yang memberikan gambaran tentang asal-usul bahasa. Asumsi-asumsi tersebut, antara lain seperti tertera dalam uraian di bawah ini. Penyelidikan antrofologi menyatakan bahwa kebanyakan kebudayaan primitif meyakini keterlibatan Tuhan dan Dewa dalam permulaan sejarah berbahasa. Tuhan yang mengajar Nabi Adam, nama-nama; And the Lord God having formed out of the ground all the beasts of the earth, and all the fowls of the air, brought them to adam to see what he would all them; for what so ever Adam called any living creature the same is its name Andreas Kemke (abad ke-17) seorang ahli filologi dari Swedia menyatakan bahawa surga Tuhan berbicara dalam bahasa Swedia dan bahasa Perancis, seangkan nabi Adam berbahasa Denmark. Goropius Becanus seorang Belanda berteori bahwa bahasa di Surga adalah bahasa Belanda. Sebuah cerita yang diturunkan oleh rakyat Mesir pada abad ke-17 SM menceritakan bahwa seorang raja Mesir yang bernama Psammetichus ingin mengadakan penyelidikan tentang bahasa pertama penyelidikan tersebut beliau lakukan dengan cara mengambil dan dua orang bayi secara acak dari kalangan biasa. Kedua bayi tersebut diberikan kepada seorang gembala untuk dirawatnya. Gembala tersebut dilarang berbicara sepatah katapun kepada bayi-bayi tersebut. Pendapat sang raja, kalau bayi dibiarkan ia akan tumbuh dan berbicara bahasa asal. Setelah sang bayi tumbuh dua tahun secara spontan berkata, “becos!” sang gembala segera menghadap sang baginda dan diceritakannya tentang bayi itu. Pendek kata, segeralah sang raja menelitinya dan mendiskusikannya dengan para penasehatnya. Menurut mereka, becos, berasal dari bahasa Phrygia yang berarti ’roti’. Dari hasil penyelidikan dan penelitian tersebut mereka berpendapat bahwa inilah bahasa pertama. Cerita ini diturunkan kepada orang-orang mesir kuno, karena menurut mereka bahasa Mesirlah yang pertama. Masih bayak cerita lain yang berbau kebudayaan dahulu. Akhir abad 18 spekulasi asal-usul bahasa berpindah dari wawasan keagamaan, mistik, dan takhayul ke alam baru yang disebut dengan organic phase (fase organis). Joann Gottfried dalam karyanya Uber dan and usprug der sprache (On the origin of language) tahun 1772 mengemukakan bahwa tidaklah tepat bila mengatakan bahasa adalah anugrah Illahi. Menurut pendapatnya bahasa lahir karena dorongan manusia untuk mencoba –coba berpikir.
Bahasa adalah akibat sentakan yang secra insting seperti halnya dalam proses kelahiran. Teori ini bersamaan dengan lahirnya teori evolusi manusia yang dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang kemudian disusul oelh Charles Darwin. Charles Darwin (1809-1882) dalam Descent of man (1871) mengemukakan bahwa manusia dibandingkan dengan suara binatang berbeda dalam tingkatannya saja. Bahasa manusia seperti halnya manusia sendiri berasal dari bentuk yang primitif, barangkali dari ekspresi emosinya saja. Contoh, perasaan jengkel atau jijik terlahirkan dengan mengeluarkan udara dari hidung dan mulut, terdengar sebagai pooh atau pish! Max Muller (1823-1900) ahli filologi dari inggris kelahiran Jerman yang ridak sependapat dengan Darwin menyebutnya dengan pooh-pooh Theory.
Teori Darwin ini tidak diterima oleh para sarjana bahkan tidak disetujuinya, termasuk Edward Sapir dari Amerika. Max Muller (1823-1900) memperkenalkan Dingdong Theory atau disebut juga Nativistic Theory. Teori ini agak sejalan dengan yang diajukan Socrates bahwa bahasa lahir secara alamiah. Menurut teori ini, manusia memiliki kemampuan insting yang istimewa untuk mengeluarkan ekspresi ujaran bagi setiap stimulus yang datang dari luar. Kesan yang diterima melalui Indra, bagaikan pukulan pada bell hingga melahirkan ucapan yang sesuai. Teori lain, Yo-he-ho Theory. Teori ini mengemukakan bahwa bahasa lahir dalam satu kegiatan sosial. Sebagai contoh orang primitif terdahulu atau mungkin kkita juga melakukannya juga sewaktu mengangkat kayu atau beban yang berat secara bekerja sama. Ketika mengangkat kayu atau beban yang berat itu, pita suara mereka bergetar terdorong oleh gerakan-gerakan otot yang secara spontan keluarlah ucapan-ucapan tertentu atau khusus untuk setiap tindakan. Ucapan-ucapan tadi kemudian menjadi nama untuk setiap tindakan, seperti: heave ‘angkat’ rest ‘diam’ dan sebagainya.
Bow-wow Theory disebut juga onomatopoetic atau Echoic Theory. Menurut teori ini kata-kata yang pertama kali merupakan tiruan-tiruan dari bunyi-bunyi alami, seperti nyanyian burung, suara binatang, suara guntur, hujan, angin, sungai, ombak, dan sebagainya. Teori ini agak bertahan, tetapi Max Muler dengan Sarkatis mengomentari bahwa teori ini hanya berlaku bagi kokok ayam dan bunyi itik, padahal kegiatan bahasa lebih banyak terjadi di luar kandang ternak. Uraian di atas dapat kita temui dalam berbagai contoh kosa kata bahasa Indonesia, seperti: menggelegar, bergetar, mendesir, mencicit, berkokok, dan sebagainya. Itulah beberapa asumsi serta teori yang memaparkan tentang asal-usul bahasa. Uraina ini nakan disingung kembali dalam bahasan selanjutnya mengenai perkembangan ilmu bahasa.
1.2.  Pengertian Bahasa
Dalam masyarakat, kata bahasa sering dipergunakan dalam berbagai ungkapan dengan berbagai makna, seperti ”bahasa warna” bahasa bunga”, “bahasa diplomasi”, “bahasa militer” dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan tersebut tidak akan dibahas disini karena tidak termasuk dalam kajian ilmu bahasa. Disini yang dimaksud dengan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri (Bloom Field, 1930). Penjelasanya sebagai berikut:
1.      Bahasa adalah bunyi-bunyi ujar yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sifatnya sistematis   dan berulang-ulang, sehingga kalau salah satu bagian saja yang terlihat, maka bagian lain dapat diramalkan atau dibayangkan. Misalnya, bila kita menemukan kalimat, Ibu mem…..dua ekor……dengan segera kita dapat menduga bunyi atau bahasa itu secara keseluruhan. Selain itu sistematis disinipun mengandung arti bahwa bahasa dapat diuraikan atas satuan-satuan yang terbatasyang dapat diramalkan. Pengertian lain dari kata sistematis ini mengatakan bahwa bahasa bukanlah sistem yang tunggal melainkan tersiri atas beberapa subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem gramatika, dan subsistem leksikon.
2.      Bahasa adalah sistem lambang. Yang dimaksud lambang disini adalah tanda yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial berdasarkan perjanjian untuk memahami, hal tersebut, kita harus mempelajarinya. Tanda adalah hal atau benda yang mewakili sesuatu atau hal yang menimbulkan reaksi yang diwakilinya. Jadi lambang adalah sejenis tanda yang bermakna bagi kegiatan komunikasi manusia. Selanjutnya karena bahasa itu disebutkan suatu lambang dan mewakili sesuatu, maka bahasa itu memiliki makna dalam arti berkaitan dengan segala aspek kehidupan dan alam masyarakat yang memakainya. Dengan demikian, bahasa merupakan sistem lambang mengandung arti tanda yang harus dipelajari oleh para pemakainya. Karena itu bahasa bersifat konvensional.
3.      Bahasa itu sistem bunyi. Artinya bahwa bahasa merupakan bunyi ujaran yang dikeluarkan oleh alat ucap yang mengandung makna. Bunyi ujaran ini merupakan objek utama / primer bagi kajian linguistik sedangkan bahasa tulis sebagai kajian sekunder.

1.2  Sifat dan Fungsi Bahasa
1.      Bahasa bersifat arbiter, yang dimaksud dengan arbiter adalah sifat bahasa yang mana suka, artinya bahasa tidak ada hubungannya dengan suatu keharusan atau kewajiban antara satuan-satuan bahasa dengan yang dilambangkannya. Misalnya, kita tidak bisa memaksa mengenai nama suatu benda, bahkan kita tidak bisa menjawab mengapa benda itu dinamai pohon, sedangkan oleh kelompok lain disebut wit, atau syajar, atau arbre. Begitu pula dengan nama benda yang lain, mungkin terdapat kelompok sosial yang memiliki sebutan masing-masing. Akan tetapi ada pula unsur bahasa lain yanng tidak terlalu bersifat arbitrer, yaitu yang disebut onomatopea. Misalnya: kokok ayam, desir, gemercik, geram, gemerincing, dan sebagainya yang masih mempunyai kesamaan faktual dengan apa apa yang dilambangkannya. Unsur bahasa yang bersifat ikonis semacam ini jumlahnya terbatas.
2.      Bahasa bersifat produktif, artinya bahasa merupakan sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas. Akan tetapi, pemakainnya tidaklah terbatas. Misalnya, bahasa Indonesia mempunyai fonem kurang dari 30, tetapi mempunyai kata lebih dari 30 000 yang mengandung fonem-fonem itu masih mungkin diciptakan oleh kata-kata baru. Dari sudut pertuturan, bahasa Indonesia hanya mempunyai lima tipe kalimat, yakni kalimat pernyataan, pertanyaan, perintah, keinginan, dan seruan. Akan tetapi dengan kelima tipe kalimat itu kita dapat menyusun kalimat-kalimat bahasa Indonesia sampai ribuan bahkan mungkin jutaan. Ini membuktikan bahwa pemakain bahasa tidakla terbatas.
3.      Bahasa bersifat unik. Artinya setiap bahasa mempunyai sisitem yang has yang tidak harus ada dalam bahasa lain. Contoh: bahasa Inggris memiliki sistem yang berbeda dengan sistem bahasa Indonesia. Misalnya dalam bahasa Inggris, kita mengenal bentuk yang menunjukan perbedaan waktu, sedangkan dalam bahasa Indonesia hal itu tidak ada.
4.      Bahasa itu Universal, artinya semua